simple

March 7, 2007

E-mail

Filed under: Uncategorized

<!– @page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Surat elektronik (disingkat surel atau surat-e) atau nama umumnya dalam bahasa Inggris "e-mail atau email" (juga: posel atau pos elektronik, dan imel) adalah sarana kirim mengirim surat melalui jalur internet. Dengan surat biasa seseorang perlu membeli prangko sebagai biaya pengiriman, tetapi surat elektronik tidak perlu memakai biaya untuk mengirim. Biaya yang mungkin dikeluarkan hanyalah biaya untuk membayar koneksi internet.

Sejarah

Surat elektronik sudah mulai dipakai di tahun 1960-an. Pada saat itu Internet belum terbentuk, yang ada hanyalah kumpulan ‘mainframe‘ yang terbentuk sebagai jaringan. Mulai tahun 1980-an, surat elektronik sudah bisa dinikmati oleh khalayak umum. Sekarang ini banyak perusahaan pos di berbagai negara menurun penghasilannya disebabkan masyarakat sudah tidak memakai jasa pos lagi.

Metode pengiriman

Untuk mengirim surel kita memerlukan suatu program mail-client. Surat elektronik yang kita kirim akan melalui beberapa poin sebelum sampai di tujuan. Untuk lebih jelasnya lihat diagram dibawah. Contoh yang dipakai adalah layanan SMTP dan POP3.

Saya menulis surel → e-mail client (di komputer saya) → SMTP server penyedia e-mail saya → Internet → POP3 server penyedia e-mail penerima → e-mail client (di komputer si penerima) → surat dibaca si penerima

Terlihat Surel yang terkirim hanya melalui 5 poin (selain komputer pengirim dan penerima). Sebenarnya lebih dari itu sebab setelah surel meninggalkan POP3 Server maka itu akan melalui banyak server-server lainnya. Tidak tertutup kemungkinan surel yang kita kirim disadap orang lain. Maka dari itu bila surel yang kita kirim mengandung isi yang sensitif sebaiknya kita melakukan tindakan pencegahan, dengan mengacak (enkrip) data dalam surel tersebut (contohnya menggunakan PGP, sertifikat digital, dan lain-lain)

Cara membaca surel

Surel pada mulanya disimpan di dalam sebuah mailserver. Biasanya bila seseorang memakai koneksi ISP untuk sambungan ke internet, ia akan diberikan satu surel gratis. Surel-surel yang diterima akan disimpan di server surel ISP.

Ada dua cara untuk mengakses surel:

  • Dengan cara menggunakan ‘browser‘, seperti Internet Explorer atau Mozilla Firefox. Metode ini disebut sebagai web-based, artinya kita menggunakan media web sebagai perantara ke kotak surat Surel. Contoh: Yahoo! Mail dan Gmail.

  • Menggunakan program surel (e-mail client), seperti: Eudora Mail, Outlook Express, Mutt. Dengan menggunakan program seperti ini, seseorang harus mengetahui konfigurasi yang bisa didapat dari ISP. Keuntungannya adalah dapat membaca surel tanpa perlu terhubung secara terus-menerus dengan internet dan puluhan surel dapat diterima dan dikirimkan secara bersama-sama sekaligus.

    Etika penggunaan surel

Etika dalam surel sama dengan etika dalam menulis surat biasa. Ada surel yang isinya formal ada yang informal. Beberapa poin penting:

  • Jangan mengirim surel dengan lampiran (attachment) yang terlalu besar (lebih dari 512 kB). Tidak semua orang mempunyai akses Internet yang cepat, dan ada kemungkinan lampiran tersebut melebihi kapasitas surel penerima, sehingga akan ditolak mailserver penerima. Selain itu, perhatikan juga bahwa beberapa penyedia surel juga menerapkan batasan tentang jumlah, jenis, dan ukuran surel yang dapat diterima (dan dikirim) penggunanya,

  • Jangan mengirim lanjut (forward) surel tanpa berpikir kegunaan bagi orang yang dituju.

  • Selalu isi kolom subjek, jangan dibiarkan kosong.

  • Gunakan kata-kata dengan santun. Adakalanya sesuatu yang kita tulis akan terkesan berbeda dengan apa yang sebetulnya kita maksudkan.

  • Jangan menggunakan huruf kapital karena dapat menimbulkan kesan anda berteriak.

    Keamanan

Keamanan data di surel tidaklah terjamin dan selalu ada resiko terbuka untuk umum, dalam artian semua isinya dapat dibaca oleh orang lain. Hal ini disebabkan oleh karena surel itu akan melewati banyak server sebelum sampai di tujuan. Tidak tertutup kemungkinan ada orang yang menyadap surel yang dikirimkan tersebut.

Data di surel dapat diamankan dengan melakukan teknik pengacakan (enkripsi). Salah satu program enkripsi yang populer adalah PGP (Pretty Good Privacy). Dengan memakai PGP maka surel akan dienkrip, dan hanya orang yang tertuju dapat mendekripsi dan membaca surel tersebut. Kerugiannya adalah membuat repot pihak pengirim dan penerima (karena keduanya harus memiliki program PGP, dan pengirim juga harus memiliki kunci umum penerima, dan melakukan enkripsi pesan dengan kunci tersebut).

Jaringan komputer

Filed under: Uncategorized

<!– @page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Jaringan komputer adalah sebuah sistem yang terdiri atas komputer dan perangkat jaringan lainnya yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang sama. Tujuan dari jaringan komputer adalah:

  • Membagi sumber daya: contohnya berbagi pemakaian printer, CPU, memori, harddisk

  • Komunikasi: contohnya surat elektronik, instant messaging, chatting

  • Akses informasi: contohnya web browsing

    Jaringan komputer adalah sekumpulan perangkat yang dapat digunakan untuk menyimpan dan manipulasi data elektronis dan pesan-pesan, saling terkait satu dengan lainnya di mana dengan cara tersebut pengguna dapat menyimpan, menggali dan saling berbagi-pakai terhadap informasi yang tersedia.
    Pada umumnya yang dihubungkan tersebut terdiri dari komputer mikro, terminal, printer dan media penyimpan data, serta perangkat jaringan lainnya. Dengan memiliki jaringan komputer memungkinkan Anda untuk menggabungkan berbagai tingkat keahlian yang terdapat di segenap staf serta berbagai jenis kapasitas peralatan yang ada, tanpa memperhatikan soal-soal lokasi fisik di antara staf maupun peralatannya. Jaringan memungkinkan pemanfaatan secara bersama di antara para pengguna jaringan terhadap file-file data dan aplikasi, saling berkirim pesan, serta memungkinkan diterapkannya sistem pengaman terhadap instalasi seara keseluruhan.

    Local Area Networks (LAN)
    Sebuah jaringan komunikasi yang melayani pengguna yang berada dalam sebuah jangkauan area geografis yang terbatas. LAN dibentuk dari beberapa buah
    server , workstations , sistem operasi jaringan serta sebuah sambungan komunikasi .
    Server adalah mesin berkecepatan tinggi yang mampu menangani penggunaan bersama atas file data dan program yang diakses oleh banyak pengguna melalui jaringan. Workstations atau disebut client adalah di mana user bekerja melalui PC-nya, yang selain bisa dimanfaatkan untuk bekerja secara mandiri juga mampu melakukan akses terhadap sumberdaya jaringan sesuai dengan hak yang dimilikinya.
    Sebuah LAN yang kecil memungkinkan sebuah workstation untuk difungsikan sebagai server, yang memungkinkan dirinya untuk bisa melakukan akses terhadap komputer rekannya. Sistem jaringan ini disebut
    peer-to-peer adalah salah satu bentuk jaringan yang pada umumnya mudah untuk diinstalasi maupun dikelola, namun bagaimana pun, adanya sebuah server yang difungsikan secar khusus akan memberikan kinerja yang lebih baik, agar mampu menangani volume transaksi yang tinggi. Di sebuah jaringan yang besar bahkan menggunakan lebih dari satu server.
    Software pengendali pada sebuah LAN adalah melalui apa yang disebut
    sistem operasi jaringan (NetWare, UNIX, Windows NT, dan lain sebagainya) yang akan ditempatkan pada server. Beberapa bagian dari komponen software tersebut akan menempati di mesin-mesin para client yang memungkinkan aplikasi untuk membaca dan menulis data dari server selayak hal tersebut berada di mesinnya sendiri.
    Pesan yang akan dikirimkan akan dikendalikan melalui fasilitas protokol pengantaran data, seperti TCP/IP dan IPX. Pengiriman datanya sendiri secara fisik dilakukan melalui metoda akses (Ethernet, Token Ring, dan sejenis lainnya) yang diimplementasikan ke dalam adapter jaringan yang dipasang pada mesin. Sebuah
    saluran komunikasi adalah berupa kabel (twisted pair, coax, optical fiber) yang akan menghubungkan setiap adapter jaringan.

    Wide Area Network (WAN)
    Adalah sebuah sistem jaringan yang menghubungkan dua atau lebih LAN yang masing-masing dibatasi oleh sebuah jarak yang cukup jauh, seperti berbeda gedung atau kota, yang dihubungkan melalui sambungan telekomunikasi, yang biasanya disewa dari perusahaan telekomunikasi.
    Internet adalah sebuah contoh dari apa yang disebut WAN dengan cakupan kawasan yang mendunia.
    WAN memungkinkan Anda untuk mengubungkan dan saling memanfaatkan sumberdaya di antara masing-masing jaringan yang menjadi bagian dari organisasi yang terpisah oleh sebuah jarak yang cukup jauh. Sebagai tambahan, Anda dapat menerapkan sebuah WAN terhadap mitra bisnis, seperti halnya penggunaan Internet untuk sebuah cakupan global.

Agar dapat mencapai tujuan yang sama, setiap bagian dari jaringan komputer meminta dan memberikan layanan (service). Pihak yang meminta layanan disebut klien (client) dan yang memberikan layanan disebut pelayan (server). Arsitektur ini disebut dengan sistem client-server, dan digunakan pada hampir seluruh aplikasi jaringan komputer.

Klasifikasi

Berdasarkan skala

Berdasarkan fungsi

Berdasarkan topologi jaringan

Jaringan komputer secara umum ada 3 buah model yaitu :

1. Model BUS, dimana komputer dan server dihubungkan pada sebuah kabel saja secara berderet. ujung-ujung kabel data diberi komponen elektronik yang disebut terminator, yaitu semacam resistor terbungkus logam dengan nilai tahanan sebesar 50 ohm.

2. Model Star, dalam model ini dipergunakan alat tambahan yang disebut hub sebagai penghubungnya. Hub memiliki lubang konektor sejumlah tertentu, ada yang memiliki 8 buah lubang koneksi (disebut port), 12 port atau 16 port dan 24 port. Kabel data dari masing-masing komputer atau server dihubungkan pada alat ini.

3. Model Token Ring, dalam hubungan komputer model ini, kabel penghubung antar komputer dibuat seperti lingkaran (ring). Komputer yang dihubungkan secara berderet pada sebuah kabel data kemudian ujung satu dan ujung satunya lagi dari kabel tersebut dihubungkan.

February 7, 2007

DANIEL BEDINGFIELD LYRICS

Filed under: Lirik Lagu
"Without The Girl"


And mama told me if I want her. I gotta take it slow
You just can’t tell her, you gotta find other ways to let her know
But I don’t understand this game
This is so new to me
I wanna tell her
I wanna take her in my arms

Give her time and maybe one-day she’ll come around
And see the love I am offering
‘Cause I don’t wanna live without the girl
Heaven knows everyday I pray
That someday she will belong to me
‘Cause I don’t wanna live without the girl

She is my sunshine but her heart belongs to another man
She looks right through me, she only ever though of us as friends
But I’ll keep holding back my heart
I will not let her see
I gonna bide my time
until the day she comes to me

Give her time and maybe one-day she’ll come around
And see the love I’m offering
‘Cause I don’t wanna live without the girl
Heaven knows, everyday I pray
That someday she will belong to me
‘Cause I don’t wanna live without the girl

Give her time and maybe one-day she’ll come around
And see the love I’m offering
‘Cause I don’t wanna live without the girl
Heaven knows, everyday I pray
That someday she will belong to me
‘Cause I don’t wanna live without the girl

Alga Brasil Bisa Hambat Infeksi HIV

Filed under: Uncategorized, IPTEK

TEMPO Interaktif, RIO DE JANEIRO: Alga, yang bertebaran di pantai-pantai Brasil, bisa menjadi tameng ampuh bagi perempuan agar tidak tertular HIV yang menyebabkan AIDS. Para peneliti Brasil sudah memproses alga itu menjadi pembunuh mikroba, yang diharapkan bisa digunakan melawan penyebaran HIV. Sejauh ini, dalam uji coba laboratorium selama tiga tahun, produk sisa alga memiliki efisiensi sampai 95 persen. "Kami jelas akan mendapatkan produk dengan efisiensi di atas 50 persen," kata Dr Luiz Castello Branco dari Oswaldo Cruz Institut. Diharapkan dalam tujuh tahun mendatang sudah beredar di pasar. "Saat ini kami sedang menguji keamanan dan dosis ideal," katanya. Uji berikutnya akan dilakukan bulan depan terhadap tikus serta sel hidup yang diambil dari serviks. Tahun depan mulai dilakukan uji coba terhadap manusia. Proyek ini bagian dari riset untuk mengembangkan mikrobiosida dalam bentuk jeli, cincin, spons, atau krim–untuk mencegah infeksi HIV atau penyakit lain yang ditularkan lewat hubungan badan. Mikrobiosida ini terutama agar para perempuan bisa memiliki alat untuk melindungi diri sendiri. Penyebabnya, seperti di Afrika, tempat AIDS menyebar luas, kondom tidak disukai. Selain itu, pemerkosaan banyak terjadi.

January 24, 2007

BAHASA DAN SASTRA SEBAGAI IDENTITI BANGSA DALAM PROSES GLOBALISASI

Filed under: Uncategorized

    Kita tengah memasuki abad XXI. Abad ini juga merupakan milenium III perhitungan Masehi. Perubahan abad dan perubahan milenium ini diramalkan akan membawa perubahan pula terhadap struktur ekonomi, struktur kekuasaan, dan struktur kebudayaan dunia.

Fenomena paling menonjol yang tengah terjadi pada kurun waktu ini adalah terjadinya proses globalisasi. Proses perubahan inilah yang disebut Alvin Toffler sebagai gelombang ketiga, setelah berlangsung gelombang pertama (agrikultiur) dan gelombang kedua (industri). Perubahan yang demikian menyebabkan terjadinya pula pergeseran kekuasaan dari pusat kekuasaan yang bersumber pada tanah, kemudian kepada kapital atau modal, selanjutnya (dalam gelombang ketiga) kepada penguasaan terhadap informasi (ilmu pengetahuan dan tekhnologi).

Proses globalisasi ini lebih banyak ditakuti daripada dipahami untuk kemudian diantisipasi dengan arif dan cermat. Oleh rasa takut dan cemas yang berlebihan itu, antisipasi yang dilakukan cenderung bersifat defensif membangun benteng-benteng pertahanan dan merasa diri sebagai objek daripada subjek di dalam proses perubahan.

Bagaimana dengan bahasa dan sastra? Apakah yang terjadi dengan bahasa dan sastra Indonesia di dalam proses globalisasi? Apakah yang harus dilakukan dan kebijakan yang bagaiman yang harus diambil dalam hubungan sastra Indonesia dalam menghadapi proses globalisasi atau di dalam era pasar bebas?

Mitos Tentang Globalisasi

Mitos yang hidup selama ini tentang globalisasi adalah bahwa proses globalisasi akan membuat dunia seragam. Proses globalisasi akan menghapus identitas dan jati diri . Kebudayaan lokal dan etnis akan ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global.

Anggapan atau jalan pikiran yang demikian tidak sepenuhnya benar. Kemajuan teknologi komunikasi memang telah membuat batas-batas dan jarak menjadi hilang dan tidak berguna. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolgi telah membuat surutnya peranan kekuasaan ideologi dan kekuasaan negara. Akan tetapi, Jhon Naisbitt dalam bukunya Global Paradox memperlihatkan hal yang justru bersifat paradoks dari fenomena globalisasi. Di dalam bidang ekonomi, misalnya, Naisbitt mengatakan "Semakin besar dan semakin terbuka ekonomi dunia, semakin perusahaan-perusahaan kecil dan sedang akan mendominasi". Ia di dalam bukunya itu juga mengemukakan pokok-pokok pikiran lain yang paradoks sehubungan dengan masalah ini. "Semakin kita menjadi universal, tindakan kita semakin bersifat kesukuan", "berfikir lokal, bersifat global." Ketika bahasa Inggris menjadi bahasa kedua bagi semua orang, bahasa pertama, bahasa ibu mereka, menjadi lebih penting dan dipertahankan dengan lebih giat.

Dari pernyataan Naisbitt itu, kalau kita mempercayai, proses globalisasi tetap menempatkan masalah lokal ataupun masalah etnis (tribe) sebagai masalah yang penting yang harus dipertimbangkan. Dalam bukunya yang lain Megatrends 2000, Naisbitt juga mengatakan bahwa era yang akan datang adalah era kesenian dan era pariwisata. Orang akan membelanjakan uangnya untuk bepergian dan menikmati karya-karya seni. Peristiwa-peristiwa kesenian yang akan menjadi perhatian utama dibandingkan peristiwa-peristiwa olahraga yang sebelumnya lebih mendapat tempat.

"Berpikir lokal, bertindak global", seperti yang dikemukakan Naisbitt itu, pastilah akan menempatkan masalah bahasa dan sastra, khususnya bahasa dan sastra Indonesia, sebagai sesuatu yang penting di dalam era globalisasi. Proses berpikir tidak akan mungkin dilakukan tanpa bahasa. Bahasa yang akrab untuk masyarakat (lokal) Indonesia adalah bahasa Indonesia. Proses berpikir dan kemudian dilanjutkan proses kreatif, proses ekspresi, akan melahirkan karya-karya sastra, yakni karya sastra Indonesia.

Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia

Di dalam sejarahnya, bahasa Indonesia telah berkembang cukup menarik. Bahasa Indonesia yang tadinya hanya merupakan bahasa Melayu dengan pendukung yang kecil telah berkembang menjadi bahasa Indonesia yang besar. Bahasa ini telah menjadi bahasa lebih dari 200 juta rakyat di Nusantara Indonesia. Sebagian besar di antaranya juga telah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama. Bahasa Indonesia yang tadinya berkembang dari bahasa Melayu itu telah "menggusur" sejumlah bahasa lokal (etnis) yang kecil. Bahasa Indonesia yang semulanya berasal dari bahasa Melayu itu bahkan juga menggeser dan menggoyahkan bahasa etnis-etnis yang cukup besar, seperti bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa dari masyarakat baru yang bernama masyarakat Indonesia. Di dalam persaingannya untuk merebut pasar kerja, bahasa Indonesia telah mengalahkan bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia. Bahasa Indonesia juga telah tumbuh dan berkembang menjadi bahasa yang modern pula.

Perkembangan yang demikian akan terus berlanjut. Perkembangan tersebut akan banyak ditentukan oleh tingkat kemajuan masyarakat dan peranan yang strategis dari masyarakat dan kawasan ini di masa depan. Diramalkan bahwa masyarakat kawasan ini, yaitu Indonesia, Malasyia, Thailand, Vietnam, Brunai Darussalam, dan Filipina akan menjadi salah satu global-tribe yang penting di dunia. Jika itu terjadi, bahasa Indonesia (lebih jauh bahasa Melayu) juga akan menjadi bahasa yang lebih bersifat global. Proses globalisasi bahasa Melayu (baru) untuk kawasan Nusantara, dan bahasa-bahasa Melayu untuk kawasan Asia Pasifik (mungkin termasuk Australia) menjadi tak terelakkan. Peranan kawasan ini (termasuk masyarakatnya, tentu saja) sebagai kekuatan ekonomi, industri dan ilmu pengetahuan yang baru di dunia, akan menentukan pula bagaimana perkembangan bahasa Indonesia (dan bahasa Melayu) modern. Bahasa dan sastra Indonesia sudah semenjak lama memiliki tradisi kosmopolitan. Sastra modern Indonesia telah menggeser dan menggusur sastra tradisi yang ada di pelbagai etnis yang ada di Nusantara.

Perubahan yang terjadi itu tidak hanya menyangkut masalah struktur dan bahasa, tetapi lebih jauh mengungkapkan permasalahan manusia baru (atau lebih tepat manusia marginal dan tradisional) yang dialami manusia di dalam sebuah proses perubahan. Lihatlah tokoh-tokoh dalam roman dan novel Indonesia. Lihatlah tokoh Siti Nurbaya di dalam roman Siti Nurbaya, tokoh Zainudin di dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, tokoh Hanafi di dalam roman Salah Asuhan, tokoh Tini, dan Tono di dalam novel Belenggu, sampai kepada tokoh Lantip di dalam roman Priyayi. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berusaha masuk ke dunia yang baru, dunia yang global, dengan tertatih-tatih.

Dengan demikian, satra Indonesia (dan Melayu) modern pada hakikatnya adalah sastra yang berada pada jalur yang mengglobal itu. Sebagaimana dengan perkembangan bahasa Indonesia, sastra Indonesia tidak ada masalah dalam globalisasi karena ia memang berada di dalamnya. Yang menjadi soal adalah bagaimana menjadikan bahasa dan sastra itu memiliki posisi yang kuat di tengah-tengah masyarakatnya. Atau lebih jauh, bagaimana langkah untuk menjadikan masyarakatnya memiliki posisi kuat di tengah-tengah masyarakat dunia (lainnya).

Kalau merujuk kepada pandangan-pandangan Alvin Toffler atau John Naisbitt, dua peramal masa depan tanpa bola-bola kristal, bahasa Indonesia dan sastra Indonesia akan menjadi bahasa (dan sastra) yang penting di dunia.

Politik Bahasan dan Politik Sastra

Proses globalisasi kebudayaan yang terjadi mengakibatkan berubahnya paradigma tentang "pembinaan" dan "pengembangan" bahasa. Bahasa Indonesia pada masa depan bukan hanya menjadi bahasa negara, melainkan juga menjadi bahasa dari suatu tribe (suku) yang mengglobal. Bahasa tersebut harus mampu mengakomodasikan perubahan-perubahan dan penyesuaian-penyesuaian yang mungkin dihadapi. Mekanisme pembinaan dan pengembangan tidaklah ditentukan oleh suatu lembaga, seperti Pusat Bahasa, tetapi akan amat ditentukan oleh mekanisme "pasar". Pusat Bahasa tidak perlu terlalu rewel dengan "bahasa yang baik dan benar". Politik bahasa yang terlalu bersifat defensif harus ditinggalkan.

Di dalam kehidupan sastra juga diperlukan suatu politik sastra. Sastra Indonesia harus lebih dimasyarakatkan, tidak saja untuk bangsa Indonesia, tetapi juga untuk masyarakat yang lebih luas. Penerbitan karya-karya sastra harus dilakukan dalam jumlah yang besar. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi semestinya menjadi tempat untuk membaca karya-karya sastra. Pengajaran sastra haruslah menjadikan karya-karya sastra sebagai sumber pengajaran.

Di dalam proses globalisasi, posisi yang harus diambil bukan sebagai objek perubahan, melainkan harus menjadi subyek. Bahasa dan sastra (Indonesia) amat potensial menjadi bahasa dan sastra yang diperhitungkan di dalam dunia global.

Jika dunia Melayu (dan Indonesia) akan hadir sebagai salah satu global-tribe di dunia dan kawasan Asia Pasifik, bahasa dan sastranya harus juga berkembang ke arah itu. Bahasa Melayu (dan Indonesia) harus siap menerima peranan yang demikian. Sastra Indonesia harus tetap menjadi sastra yang unik di tengah-tengah dunia yang global. Bahasa dan sastra Indonesia (Melayu) harus mampu menjadikan kekuatan budaya (global-trible) yang baru itu. Untuk itu, diperlukan suatu politik bahasa ( dan sastra) yang terbuka, bukan bersifat defensif.

Dampak Globalisasi Terhadap Seni dan Budaya

Filed under: Uncategorized

    Seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat, khususnya Amerika, sedemikian rupa sehingga mereka seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing yang berkuasa di berbagai bangsa, dulu dipaksakan lewat imperialisme dan kini dilakukan dalam bentuk yang lebih meluas dengan nama globalisasi.

    Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Globalisasi menyentuh berbagai aspek kehidupan, antara lain seni. Dalam rangka mengamati dan meneliti proses globalisasi dalam dunia seni, baru-baru ini di Teheran, Iran, telah diselenggarakan sebuah seminar internasional dengan tema “Seni dan Globalisasi”. Seminar ini dihadiri oleh 20 cendikiawan Iran dan 23 cendikiawan asing dari 15 negara, antara lain Perancis, Tunisia, Russia, Nigeria, Turki, Zimbabwe, Kenya, Italia, Cina, Lebanon, Mesir, Afrika Selatan, Kanada, dan Tanzania.

    Presiden RII Sayid Muhammad Khatami dalam pesannya yang disampaikan pada  seminar ini, menyatakan harapannya agar seminar ini berhasil mendefiniskan dengan baik berbagai kesempatan dan ancaman yang akan melanda manusia pada era globalisasi. Selain itu, menurut Presiden Khatami, para peserta seminar hendaknya mencari jalan praktis dalam meningkatkan kemampuan seni dan budaya pribumi, agar mampu berdiri kokoh di dalam tatanan baru dunia.

    Sayid Ahmad Wakiliyan, seorang peneliti Iran yang aktif dalam bidang budaya tradisional, meyakini bahwa dalam era globalisasi ini, bangsa-bangsa harus memproduksi karya-karya budaya yang sesuai dengan tuntutan pasar dunia. Dalam hal ini, para budayawan berbagai bangsa harus menggali  dan menemukan keistimewaan-keistimewaan budayanya masing-masing, lalu memperkenalkannya kepada bangsa-bangsa lain.

    Mengenai globalisasi dalam kerangka Barat yang ingin menyamakan budaya rakyat dunia, Sayid Ahmad Wakiliyan mengatakan bahwa hal itu merupakan satu campurtangan terhadap hukum alam dan penciptaan. Menurutnya, proses globalisasi yang alami haruslah sesuai dengan yang disebut oleh Al Quran, yaitu bahwa Allah menciptakan manusia dalam berbagai bangsa dan suku, supaya mereka lebih saling mengenal antara satu sama lain. Namun, globalisasi telah menimbulkan masalah kepada proses ini karena berusaha memaksakan satu budaya agar diterapkan kepada bangsa-bangsa yang berbeda, dan itu artinya kebudayaan pribumi bangsa-bangsa itu menjadi tersingkir.

    Simon Kimoni, sosiolog Kenya yang hadir dalam seminar ini mempunyai pandangan yang senada. Dia mengatakan bahwa proses globalisasi seimbang dengan kehidupan manusia dan sepanjang sejarah manusia, memang selalu terdapat upaya manusia untuk mendekatkan diri antara satu sama lain dan mencari titik persamaan. Tetapi, di sepanjang 30 tahun terakhir, negara-negara Barat berusaha memaksa masyarakat dunia untuk menerima nilai-nilai Barat secara mutlak. Menurut Simon Kimoni, hal ini sangat berbahaya dan jika terus berkelanjutan, proses ini akan menyebabkan hegemoni Barat dan Amerika terhadap negara-negara lain.

    Selanjutnya, sosiolog asal Kenya ini mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kimoni, dalam proses ini, negara-negara Dunia Ketiga harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa Dunia Ketiga haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka.

    Sementara itu, Doktor Hasan Bulkhari, seorang peserta dari Iran, mempunyai pandangan yang lebih realistis dalam hal ini. Penulis dan peneliti terkemuka Iran ini percaya bahwa di bidang ilmu dan seni, globalisasi bukan bermakna penguasaan atas seni. Menurutnya, seorang seniman dan sebuah aliran seni sama sekali tidak pernah melahirkan karya seni dengan tujuan untuk menguasai orang lain, melainkan berusaha mengajak para penonton atau pembaca agar memasuki dunia seni itu sendiri. Seni berusaha untuk menjelaskan suatu objek secara transparan dan mengurangi jaraknya dengan penonton.

    Doktor Bulkhari selanjutnya menyatakan bahwa pada hari ini, manusia berhadapan dengan seni yang digunakan untuk menjajah dan di sinilah bermulanya segala masalah. Dalam hal ini, dia mengemukakan contoh yaitu industri perfilman Hollywood. Industri ini mengeluarkan 700 film dalam setahun dan mempunyai banyak sekali peminat di seluruh dunia sehingga secara praktis, film telah berubah menjadi sarana penjajahan Amerika. Namun, menurut doktor Bulkhari, masalah ini tidak bisa dilihat hanya dari sudut seni saja. Dalam kasus ini, Barat atau khususnya AS, telah mengunakan seni sebagai alat untuk menyebarkan imperialismenya di dunia. Dalam pandangan peneliti Iran ini, Barat sesungguhnya telah berhasil dalam menciptakan karya seni berkualitas tinggi, namun yang menjadi masalah adalah isi atau kandungan yang disampaikannya.

    Sub-sub tema lain yang dibahas dalam seminar “Seni dan Globalisasi” ini antara lain adalah seni-seni nasional dalam era globalisasi; agama, seni, dan globalisasi; proses globalisasi dan penyingkiran seni; serta globalisasi dan kemerdekaan seni.

    Secara umum, dari berbagai tema yang dibahas tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar para peneliti di negara-negara Asia dan Islam sepakat bahwa bangsa-bangsa Dunia Ketiga haruslah melepaskan diri dari sikap pasif dalam menghadapi globalisasi. Mereka haruslah berupaya secara aktif mengenalkan potensi-potensi yang tersembunyi di negara-negara Dunia Ketiga, terutama negara-negara Islam, kepada bangsa dan budaya-budaya lain.

    Kami akhiri perspektif ini dengan menukil sebagian dari makalah yang disampaikan oleh Doktor Abhay Kumar Singh dari India sebagai berikut.

    “Globalisasi mungkin saja mendatangkan musibah kepada seni kita, karena ia sama seperti badai taufan yang mungkin mencabut akar budaya. Tetapi dari sudut pandang yang lain, globalisasi bisa memberikan kesempatan istimewa untuk bangsa-bangsa yang kaya dengan budaya. Seni kita akan tersebar ke luar batas negara dan memberikan pengaruh kepada dunia. Sejarah menyaksikan bahwa pada berbagai era kegemilangan, seni dari Iran, India, dan Italia berkembang sampai ke negara-negara yang jauh. Masalah inilah yang mungkin terjadi hari ini. Karena itu, bangsa Asia yang percaya kepada kekuatan akar budaya mereka tidak perlu takut pada pengaruh asing. Kita harus berusaha untuk memahami bagaimana seni bisa menjadi tameng pertahanan budaya dan tradisi.


DEMO INSTALASI WIRELESS INTERNET

Filed under: Uncategorized
  •  Kebutuhan informasi melalui internet
    Dewasa ini pemakaian internet sebagai media untuk memperoleh informasi secara cepat, mudah dan murah telah menjadi salah satu kebutuhan berbagai kalangan. Hal ini tampak dari jumlah pengguna internet yang semakin meningkat dari waktu ke waktu, baik untuk keperluan pendidikan, bisnis, ataupun sekedar keperluan komunikasi serta hiburan. Namun penggunaan internet sebagai media informasi saat ini masih dirasakan mahal apabila ditinjau secara ekonomis.

    Apakah wireless internet itu dan mengapa perlu dikembangkan ?

Wireless internet adalah internet yang menggunakan frekuensi radio dan bekerja pada kecepatan tinggi yaitu 11-54 Mbps, jauh lebih cepat daripada layanan internet melalui telefon yang dikelola PT TELKOM dengan kecepatan maksimum 56 Kbps.

    Pemakaian wireless internet memungkinkan akses internet selama 24 jam dengan biaya sangat murah karena wireless internet  tidak akan dikenakan pulsa Telkom, sehingga pemakai hanya dikenakan biaya pembayaran kepada Internet Service Provider/ISP-nya saja.

    Sebagai upaya untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat agar masyarakat secara mandiri dapat lebih maju dalam berbagai hal, tentunya terobosan baru seperti wireless internet ini perlu mendapat perhatian dan dukungan khususnya dari kalangan perguruan tinggi dan pusat-pusat informasi (perpustakaan dll) sehingga seluruh masyarakat dapat menikmati informasi secara lebih ekonomis.

    Bahkan apabila masyarakat sudah benar-benar memahami manfaat wireless internet, dapat dibentuk dan dikembangkan jaringan-jaringan di tingkat RT atau RW sehingga biaya pemakaian internet dapat ditekan menjadi sekitar Rp 150 s/d Rp 300 ribu per rumah setiap bulan untuk akses internet 24 jam.

 

  • Prospek pengembangan wireless internet di Indonesia
    Berdasarkan laporan dari berbagai sumber, sejauh ini telah beroperasi di Indonesia 2500+ node dan hal ini diperkirakan akan terus berkembang pesat seiring dengan perkembangan harga berbagai perangkat pendukungnya yang semakin lama semakin murah.

    Atas dasar pemikiran dan kenyataan tersebut , UPT Perpustakaan ITB sebagai pusat informasi memandang perlunya melakukan penyebarluasan informasi mengenai teknologi wireless internet melalui demo instalasi ini.

 Wireless internet memungkinkan setiap orang yang memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber di seluruh dunia secara cepat dan murah, sehingga transfer pengetahuan dapat berlangsung lebih efektif dan efisien.

 

    Mengapa Anda perlu menghadiri demo instalasi wireless internet ?

    Demo akan dipandu langsung oleh Dr.Onno W.Purbo yang selama bertahun-tahun telah meneliti serta mengembangkan internet, dan akan berbagi pengetahuan, pengalaman serta berbagai teknik instalasi wireless internet.

    Bila Anda seorang peminat dan pemerhati masalah komputer serta internet, Anda akan melihat bagaimana mudahnya melakukan instalasi dan membangun jaringan wireless internet
 

  •     Materi demostrasi

    *
      Konsep WiFi  infrastructure
    *

      Persiapan peralatan WiFi
    *

      Instalasi WLAN pada Microsoft Windows (penggunaan client utility)
    *

      Instalasi WLAN card pada LINUX
    *

      IWCONFIG
    *

      Teknik instalasi dan konfigurasi Access Point
    *

      Teknik membangun router/proxy WLAN
    *

      Teknik perhitungan wireless connection






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M